Pages

Showing posts with label kerajian rotan. Show all posts
Showing posts with label kerajian rotan. Show all posts

Hangin Bang Donggo Perempuan Dayak penerima Upakarti

oleh Margaretha Seting Beraan pada 23 Desember 2009 jam 17:32
Dua orang pengrajin dari kedang pahu sedang studi banding ke rumah sekaligus bengkel kerja bu HanginTanggall 28 desember 2009 bu Hangin Bang Donggo,perempuan Dayak Penihing yang telah aktif mengembangkan kerajinan anyaman manik dan rotan akan menerima anugerah penghargaan upakarti dari presiden SBY. Beliau mendapatkan anugerah untuk bidang kepeloporan.. hal ini wajar karena beliau telah lama merintis pengembangan kerajinan manik dan rotan ini, beliau telah medidik dan mengorganisir kaum perempuan pengrajin manik dan anyaman dari kabupaten kutai barat, beliau juga tidak lelah mengikuti pameran-pameran,lomba-lomba desain kerajina baik dalam dan luar negeri, mengembangkan model-model baru yang lebih modern tanpa melupakan pakem tradisionalnya.

Beberapa hasil karya bu Hangin, sebagian masih dalam pengerjaan untuk ditambahkan manik atau pewarna naturalSebenarnya menerima penghargaan bukan hal yang baru bagi bu Hangin, beliau terlebih dahulu mendapatkan penghargaan dari Gubernur Prop.Kaltim, juga penghargaan yang paling bergengsi dari badan Internasiona UNESCO yaitu "Seal of Excellence" untuk produk rotannya, selain itu beliau langganan mendapat piala dalam lomba desain kerajinan tinggkat propinsi. atas prestasi-prestasi ini, tak heran pemerintah Indonesia sudah selayaknya memberikan apresiasi atas kiprah beliau

Bu Hangin sosok yang tak kenal lelah dan selalu mau belajar dari pengalaman, jiwa interpreneurnya juga tinggi, dengan modal yang tersendat-sendat beliau tidak menyerah untuk terus mengembangkan kerajinan tradisional Dayak. walaupun sebagai seorang Single mother yang harus menghidupi anak-anak, adik bahkan keponakannya..dia tidak pernah mengeluh! justru hal itu menjadi pemacu semangatnya untuk terus maju dan berjuang.

Selamat Bu Hangin! Semoga generasi muda Dayak dapat mengikuti jejakmuIbu Hangin sebagai pelatih bagi kelompok pengrajin Bna Usaha Rotan di desa Pepas Eheng, Kutai Barat

Kutai Barat Sabet Inacraft Award 2010

 

Bina Usaha Rotan, Memperkuat Perempuan Adat Dayak di Kutai Barat



Rotan ditanam oleh suku Dayak Benuaq di daerah Kedang Pahu di kabupaten Kutai Barat, selain menjual rotan basah, mereka juga memproduksi kerajinan tradisional seperti keranjang rotan[Berangka], Tikar, Tas atau gelang dari rotan. Mereka biasanya menggunakan rotan sebagai bahan untuk penggunaan sehari-hari maupun pada upacara tradisional. Rotan adalah sebagian hidup mereka.

Penduduk desa Kedang Pahu umumnya adalah petani dan kebanyakan dari mereka mempunyai kebun rotan mereka sendiri. Kerajinan anyaman rotan ini umumnya dilakukan oleh kaum perempuan atau ibu-ibu. Sedangkan kaum laki-laki berperan sebagai pemotong atau pemanen rotan. Rotan adalah tumbuhan berduri dan menjalar pada pohon yang tinggi didalam kebun rotan, rotan yang bagus untuk menghasilkan anyaman rotan yang baik adalah rotan yang tumbuhnya merambat diatas pohon. Sehingga perlu memanjat pohon untuk memilih rotan dengan mutu yang baik, untuk itu dibutuhkan keahlian kaum laki-laki. Dalam hal ini kerjasama antar laki-laki dan perempuan sangatlah penting. Sedangkan proses membelah, mengeringkan dan menganyam rotan dilakukan sebagian besar oleh kaum istri. Usaha kerajinan rotan ini ditekuni untuk menambah penghasilan keluarganya, disamping usaha pokok mereka sebagai petani. Kerajinan ini turun temurun di teruskan kepada anak-anak mereka agar tidak punah ditelan waktu. Bahan pewarna yang dipakai oleh mereka semuanya alami dari daun dan akar tanaman lokal. Warna yang umumnya dipakai untuk mewarnai adalah warna alami kulit rotan dan warna hitam.

Untuk memasarkan kerajinan rotan di kedang pahu, masyarakat pengrajin dari daerah ini telah membentuk sebuah usaha bersama yang dinamakan ” Bina Usaha Rotan”. Usaha ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan pengrajin rotan dengan memproduksi dan menjual ayaman rotan, melakukan
pelatihan bagi pengrajin mengenai teknis dan model-model baru serta memperbaiki kualitas dan mengembangkan produk baru dari anyaman rotan.

Bina Usaha Rotan memproduksi anyaman berdasarkan pesanan. Keuntungan yang didapat oleh lembaga usaha ini akan disalurkan kembali kepada
anggota guna memperbaiki tingkat kesejahteraan pengrajin. Usaha pengembangan kerajinan rotan ini juga di kembangkan untuk melindungi wilayah mereka dari penggundulan hutan dan kerusakan alam akibat ekploitasi hutan.

Halaman ini diciptakan hanya untuk memasarkan produk dan memperkenalkan lembaga usaha pengrajin rotan di kabupaten Kutai Barat yaitu ”Bina Usaha Rotan” ini kepada masyarakat umum. Jika anda ingin membeli produk buatan tangan ini, silahkan menghubungi kami untuk pemesanan.

contact: setingsetiawan@gmail.com

Pelatihan Pengembangan Model dan Kualitas Kerajinan Rotan di Desa Pepas Eheng 13 – 14 februari 2009


Desa Pepas Eheng yang terletak di kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat memang sudah terkenal sebagai sentra kerajinan anyaman anjat sejak dulu, aneka ukuran anyama rotan dengan mudah kita temui. Mulai dari yang ukuran kecil sampai ukuran besar. Para turis domestic maupun mancanegara yang pernah berkunjung ke Desa Eheng akan membawa oleh-oleh anjat khas Desa Pepas Eheng. Seiring dengan berjalannya waktu, bentuk kerajinan anyaman rotan di Desa Pepas Eheng semakin berkembang. Tidak hanya anjat saja yang kita temui tetapi juga anyaman berupa ”Berangka*”, Tikar, Bakul, Gelang bahkan Tas kerja.

Perubahan bentuk anyaman rotan dari Desa Pepas Eheng ini adalah bentuk kreatifitas masyarakat pengrajin yang ingin menjawab tantangan jaman, dimana apresiasi masyarakat umum terhadap produk anyaman sedikit demi sedikit berkurang karena bentuknya yang monoton. Oleh karena itu juga dalam rangka meningkatkan apresiasi masyarakat umum terhadap kerajinan anyaman dari Kutai Barat dan meningkatkan keahlian masyarakat pengrajin yang ada di 3 kampung di hilir aliran DAS Kedang Pahu[Eheng, Jengan Danum dan Lambing], maka telah terbentuk suatu wadah usaha kerajinan rotan yang bernama ”Bina Usaha Rotan”. Usaha ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan pengrajin rotan dengan memproduksi dan menjual ayaman rotan, melakukan pelatihan bagi pengrajin mengenai teknis dan model-model baru serta memperbaiki kualitas dan mengembangkan produk baru dari anyaman rotan. Kelompok Bina Usaha Rotan ini beranggotakan 60 orang penganyam/pengrajin rotan.

Pada tanggal 13-14 februari 2009 telah dilakukan ”Pelatihan Pengembangan Model dan Kualitas Kerajinan Rotan” yang mengambil tempat di Balai Kerajinan Desa Pepas Eheng. Pelatihan ini terlaksana atas kerjasama antara Bina Usaha Rotan dengan Non Timber Forest Product Exchange Program[NTFP-EP] yaitu sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berasal dari Philippina. Lembaga Swadaya Masyarakat ini tertarik bekerjasama dengan para pengrajin di Desa Pepas Eheng tak lain karena tertarik dengan produk kerajinan yang berwawasan lingkungan, alami dan mensejahterakan masyarakat lokal tanpa harus mengorbankan hutan untuk mencari penghasilan tambahan. Alasan lain lagi adalah karena di Philipina khususnya pulau Palawan juga terdapat usaha kerajinan rotan yang hampir mirip dengan yang ada di Kalimantan Timur, hal ini memungkinkan kedua kelompok masyarakat dari philipina dapat bertukar pengalaman dengan pengrajin di Pepas Eheng dan sebaliknya untuk sama-sama memajukan usaha masyarakat. NTFP-EP sudah lama bekerjasama dengan kelompokmasyarakat semacam Bina Usaha Rotan di Philipina, beberapa telah melakukan expor kerajinan rotan, dan telah melakukan modifikasi-modifikasi terhadap produk tradisional mereka tanpa kehilangan nuansa aslinya.

Dengan dukungan dari Petinggi/kepala desa dan pelatih yang telah berpengalaman dalam mengembangkan kreasi anyaman rotan yaitu Ibu Hangin Bang Donggo maka pelatihan yang terlakasana selama 2 hari ini telah menghasilkan beberapa kreasi baru dari modifikasi bentuk anjat menjadi tas jinjing ataupun tas santai juga pigura foto. Beberapa peserta sempat terharu karena baru kali ini bisa menguasai cara membuat modifikasi bentuk dari anjat. Hal lain yang dilatih dalam pelatihan adalah membuat bentuk sudut anyaman yang bagus agar bentuk tas lebih kuat dan gaya. Walaupun membutuhkan ketelatenan ternyata para peserta yang 90% perempuan ini tetap bersemangat mengikuti pelatihan sampai bisa menguasai keahlian baru yang diajarkan bagi mereka.

Dari pelatihan ini diharapkan penganyam mau terus berkreasi dengan model-model lain yang baru, sehingga keinginan masyarakat akan anyaman rotan yang bermutu yang sesuai dengan kebutuhan dan trend yang berkembang dapat di penuhi. Diharapkan wadah Bina Usaha Rotan ini semakin berkembang dan dapat menjadi sebuah wadah usaha masyarakat yang dapat mensejahterakan anggotanya.

Bina Usaha Rotan, strengthening the Dayak Woman - By Ms. Seting Setiawan



This is about an NGO initiative to increase community income through a socio-commercial enterprise by developing rattan craft products using raw rattan hand woven by the local farmers/weavers of Pepas Eheng Village in West Kutai District in East Borneo, Indonesia.


Rattan is planted by the Dayak Benuaq Tribe in Kedang Pahu Area in West Kutai District, and raw/wet rattan is sold to the weavers. The weavers produce traditional crafts like basket, a plaited mat, bag or bracelets out of them. They also have multipurpose uses for rattan like traditional ceremonies and for even daily use. Rattan is part of their life.


The villagers here are all farmers and most of them have rattan gardens of
their own. The men are good at cutting rattan, harvesting the best for the season. They need to climb trees to pick out the best good quality rattan for good quality craft. Rattan is a climber. The weaving itself is mainly done by the housewife, to provide supplementary income for her family; the mainstay of their livelihood being farming. She also teaches her kids how to do this, when they are back from school. The colors used by them are all natural pigmentations from leaves and roots of local plants. The natural color of rattan and the black color added give them an impressive look. Other colors like red, green and blue are still being tried out experimentally.


I am an NGO activist and I help them to organize the management and to look for a market for them. I have been working with this community for more than 5 years, and have helped them to launch this rattan craft project since the beginning of 2007. The contact in the Village is Ms. Rujun and she is very good in Bahasa Indonesia; I help her with English, emails and networking. Now we help the weavers to establish a community enterprise called "Bina Usaha Rotan" to produce, market the products and to train the community to develop new products and the improve quality. The demand for rattan products is increasing by the day and they have started to produce them per order. The profits earned are channeled back to improve the weaver income/welfare and to teach them to protect their areas from deforestation.


Out of the 60 families of this small hamlet, 40 housewives have been engaged
to contribute as weavers to this grass root level micro project. This means 40 families in the village make their lives more comfortable with their native skills and their own natural raw materials. Many more of them are starting to show keen interest in this activity. The enterprise belongs to the community. Now the products are being sold in the local markets because of their limited production capacities, but we hope to increase production, through engaging more and more community members and training them.


Farmer/weavers in the remaining 222 villages of West Kutai District produce rattan craft for household use. And I am working with 3 villages now. Now I am focusing on this pilot project in Pepas Eheng village and after training them to become self confident in managing it, I will continue with other villages. And so on and on, into other districts ..........


West Borneo province has a population of about 3 million. It will be a big job for me. But I am going to try. I will tell you about it later.


This page is created only to display the products of and to popularize the lot of the farmer/weavers of West Kutai district in East Borneo, Indonesia, who work silently, using their native skills, and their sweat and blood, in their effort to earn a meager but dignified living. There are many families involved in this socio-economic self-help activity, and they are very happy to go on with their humble lifestyle in this virgin pristine hinterland of Indonesia.



There is no attempt made through this page to seek grants, funds or donations whatsoever. I am scouting around for markets for these rattan products, mainly to encourage these weavers to step up their products, the main thrust of this campaign being to increase the community income resources and lifestyle of the weavers. If anyone reading this is interested in buying these handmade products, I can guarantee that they will get good value for their money, and they will only pay for what they really receive in value. There are no fakes here.

contact:
MS.Seting Setiawan
setingsetiawan@gmail.com

Produk - Produk Kerajinan Rotan Kutai Barat

salah seorang pengrajin dengan hasil kerjanya
Amok
Anjat
Rotan adalah tanaman yang sangat bermanfaat dan multifugsi. karena kelenturan dan kekuatannya tersebut maka masyarakat Dayak Benuaq dari daerah DAS Kedang Pahu di Kabupaten Kutai Barat berkreasi dengan membuat aneka bentuk kerajinan dari rotan.

ini adalah anjat dan amok salah satu bentuk produk yang dihasilkan dari rotan

Bina Usaha Rotan, Memperkuat Perempuan Adat Dayak di Kutai Barat


Ini adalah inisiatif sebuah Lembaga Nirlaba [Ornop] untuk menambah penghasilan masyarakat melalui sebuah usaha socio-komersial dengan mengembangkan produk kerajinan rotan yang dibuat oleh pengrajin dari kampung Pepas Eheng di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Rotan ditanam oleh suku Dayak Benuaq di daerah Kedang Pahu di kabupaten Kutai Barat, selain menjual rotan basah, mereka juga memproduksi kerajinan tradisional seperti keranjang rotan[Berangka], Tikar, Tas atau gelang dari rotan. Mereka biasanya menggunakan rotan sebagai bahan untuk penggunaan sehari-hari maupun pada upacara tradisional. Rotan adalah sebagian hidup mereka.

Penduduk desa Pepas Eheng umumnya adalah petani dan kebanyakan dari mereka mempunyai kebun rotan mereka sendiri. Kerajinan anyaman rotan ini umumnya dilakukan oleh kaum perempuan atau ibu-ibu. Sedangkan kaum laki-laki berperan sebagai pemotong atau pemanen rotan. Rotan adalah tumbuhan menjalar, rotan yang baik untuk menghasilkan anyaman rotan yang baik adalah rotan yang tumbuhnya merambat diatas pohon. Sehingga mereka perlu memanjat pohon untuk memilih rotan dengan mutu yang baik, untuk itu dibutuhkan keahlian kaum laki-laki. Sedangkan proses membelah, mengeringkan dan menganyam rotan dilakukan sebagian besar oleh kaum istri. Usaha kerajinan rotan ini ditekuni untuk menambah penghasilan keluarganya, disamping usaha pokok mereka sebagai petani. Kerajinan ini turun temurun di teruskan kepada anak-anak mereka agar tidak punah ditelan waktu. Bahan pewarna yang dipakai oleh mereka semuanya alami dari daun dan akar tanaman lokal. Warna yang umumnya dipakai untuk mewarnai adalah warna alami kulit rotan dan warna hitam. Kelak akan dikembangkan penambahan warna alami lainnya seperti warna merah, hijau dan biru tetapi pewarnaan ini masih dalam tahap uji coba.

Saya adalah seorang pegiat NGO dan saya menolong mereka untuk menguatkan keorganisasian usaha mereka dan membantu untuk mencari pasar bagi mereka. Saya sudah bekerja dengan himpunan ini selama lebih dari 5 tahun, tetapi kami baru memulai usaha kerajinan rotan ini sejak awal 2007. Kontak dari para pengrajin rotan di desa adalah ibu Rujun, beliau bertanggungjawab untuk pasar lokal, sedangkan saya menolongnya untuk komunikasi dengan bahasa Inggris, email dan menciptakan jaringan kerja.

Sekarang kami menolong pengrajin anyaman rotan ini untuk mendirikan sebuah lembaga
usaha yang diberi nama "Bina Usaha Rotan". Usaha ini bertujuan meningkatkan
kesejahteraan pengrajin rotan dengan memproduksi dan menjual ayaman rotan, melakukan
pelatihan bagi pengrajin mengenai teknis dan model-model baru serta memperbaiki kualitas anyaman dan mengembangkan produk baru. Umumnya mereka memproduksi anyaman berdasarkan pesanan.
Permintaan untuk produk rotan ini semakin bertambah,keuntungan yang didapat oleh lembaga usaha ini akan disalurkan kembali kepada anggota guna memperbaiki tingkat kesejahteraan pengrajin. Usaha pengembangan
kerajinan rotan ini juga di kembangkan untuk melindungi wilayah mereka dari
penggundulan hutan dan kerusakan alam akibat ekploitasi hutan.

Kabupaten Kutai Barat terdiri atas 223 desa. Sebagian besar mereka adalah petani, rotan
biasanya di pakai untuk keperluan sehari-hari,bahkan dijual untuk menambah
penghasilan keluarga. Karena nilainya tersebut selain tumbuh liar, rotan juga ditanam
dikebun mereka. Untuk kegiatan usaha kerajinan ini, saya bekerjasama dengan 3 desa
sekarang, yaitu Desa Pepas Eheng, Jengan Danum dan lambing. Lembaga Bina Usaha
Rotan ini berpusat di desa Pepas Eheng, fokus kegiatan adalah pengembangan
keorganisasian/management mereka dan meningkatkan kapasitas produksi. Harapannya
setelah kegiatan ini berhasil di Pepas Eheng, maka akan mencoba mengembangkan di desa-desa lainnya di Kalimantan Timur.

Halaman ini diciptakan hanya untuk memasarkan produk dan memperkenalkan lembaga
usaha pengrajin rotan di kabupaten Kutai Barat yaitu Bina Usaha Rotan ini kepada
umum. Tidak ada niat untuk mencari dana bantuan, dana atau sumbangan apapun melalui
halaman ini. Saya mencari-cari pasar untuk penjualan produk rotan ini, tujuan utama
kampanye ini adalah untuk mencari pembeli guna menambah sumber penghasilan
anggota Bina Usaha Rotan. Jika anda ingin membeli produk buatan tangan ini, saya
yakin bahwa uang anda akan sangat berarti dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.