Pages

Showing posts with label kutai barat. Show all posts
Showing posts with label kutai barat. Show all posts

DAYAK TERPAKU


Dua orang Dayak terpaku melihat lubang tambang yang menganga lebar dihadapan mereka, baru kali ini mereka bisa melihat langsung dalam areal tambang PT.Gunung Bayan yang beroperasi selama kurang lebih 15 tahun di kampung mereka. kawasan dengan tanda "Dilarang Masuk Bagi Yang Tidak Berkepentingan" itu ternyata mampu membuat lutut mereka gemetar.... bagaimana tidak?! Luasan bukaan tambangnya bisa menampung seandainya seluruh rumah dan bangunan di kampung Muara Tae di kumpul dan dibuang kedalam lubang besar yang menganga itu.... Miris membayangkan kelak jika perusahaan gabungan milik swasta nasional dengan malaysia ini kelak pergi meninggakan kampung mereka, maka yang tinggal hanya lubang besar menganga....

15 tahun mereka telah menghirup debu dan meminum air beracun, berebut tanah dengan pendatang, dan berkelahi antar saudara karena urusan ganti rugi lahan .... 15 tahun berlalu tanpa ada perubahan menuju masyarakat sejahtera seperti yang di janjikan dulu.

Kini mereka memandang lubang itu dengan ternganga .... dalam hati mungkin berpikir"memang kita menyiapkan lubang untuk masa depan kita sendiri jika kita tergiur janji-janji yang sama dikemudian hari"

Potret Pembangunan dalam Puisi..


oleh Margaretha Seting Beraan pada 17 Agustus 2011 jam 8:01

Mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
......Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.

Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna?
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga?

Orang berkata Kami punya maksud baik
Dan kita bertanya : Maksud baik saudara untuk siapa ?

Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.

Dan kita di sini bertanya :
Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor, tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya :
Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?

Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?

Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Dan kita di sini bertanya : Maksud baik saudara untuk siapa ?
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.

Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !


Jakarta 1 Desember 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi..

(Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film Yang Muda Yang Bercinta, yang disutradarai oleh Sumandjaja)

Siapa Bertanggungjawab?

oleh Margaretha Seting Beraan pada 25 Februari 2011 jam 19:12
Dalam perjalanan pulang dari kubar ke Samarida, antara camp baru – resak, terjadi keresahan besar di jalan…para penumpang dan pengendara berteriak dan berkeluh karena ada jalanan yang rusak.  

Bermula dari (katanya) sebuah truk angkutan kelapa sawit yang terperosok di lubang jalanan, sangkut, tak bisa kemana-mana. Akhirya terjadi  kemacetan besar akibat terjadi antrian mobil sepanjang kurang lebih 2 kilometer menunggu giliran lewat.  Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 7 jam akhirnya harus menunggu hingga 15-20 jam.

Kejadian ini terjadi di antara kampong Camp baru dengan resak, tepat di dalam area perkebunan kelapa sawit.  Jauh dari pemukiman dan perumahan penduduk, tak ada rumah tempat menumpang ke tolilet atau tempat meminta segelas airputih.

Selalu dalam kondisi darurat, wong cilik yang paling cepat mengambil inisiatif. Mereka menggorganisir diri, mencoba menarik kendaraan yang sangkut dengan imbalan 30 ribu perkendaraan.  Para penjaja makanan keliling yang biasa dipanggil leleq juga menjual aneka minuman ringan dan makanan buatan, dengan cepat mereka menggunakan kesempatan tersebut untuk bergerilya mencari pembeli yang kelaparan. Dalam keterbatasan mereka ada banyak orang yang complain karena tidak mendapat giliran secara adil. Beberapa orang yang harusnya menghadiri pertemuan penting di samarinda mengomel, beberapa orang yang harus mengejar penerbangan keluar kota  tanpa malu menangis membayangkan tiket yang hangus karena keterlambatan akibat kemacetan ini

Dalam kondisi seperti  ini, muncul pikiran2 dan pertanyaan dikepala:
-          Kejadian ini akibat Jalanan yang rusak, lalu kemana pajak yang dibayarkan oleh pemilik kendaraan yang dibayarkan selama ini?
-          Kemana para petugas DLLAJR ? kog tak ada aksi cepat mengatasi keadaan ini? padahal ini kewajiban mereka dan dari pajak-pajak penggunaan jalan dan pajak kendaraan itulah gaji mereka dibayarkan.
-          Dimana tanggungjawab perusahaan sawit yang mengakibatkan kerusakan jalan akibat angkutan alat-alat beratnya
-          Dimana pejabat pemerintah yang berkewajiban mengatasi masalah ini? Apakah issue perbaikan jalan dan sarana transportasi ini ikut menguap bersama issue selesainya pilkada???

Siapa ini yang harus bertanggungjawab???

Hangin Bang Donggo Perempuan Dayak penerima Upakarti

oleh Margaretha Seting Beraan pada 23 Desember 2009 jam 17:32
Dua orang pengrajin dari kedang pahu sedang studi banding ke rumah sekaligus bengkel kerja bu HanginTanggall 28 desember 2009 bu Hangin Bang Donggo,perempuan Dayak Penihing yang telah aktif mengembangkan kerajinan anyaman manik dan rotan akan menerima anugerah penghargaan upakarti dari presiden SBY. Beliau mendapatkan anugerah untuk bidang kepeloporan.. hal ini wajar karena beliau telah lama merintis pengembangan kerajinan manik dan rotan ini, beliau telah medidik dan mengorganisir kaum perempuan pengrajin manik dan anyaman dari kabupaten kutai barat, beliau juga tidak lelah mengikuti pameran-pameran,lomba-lomba desain kerajina baik dalam dan luar negeri, mengembangkan model-model baru yang lebih modern tanpa melupakan pakem tradisionalnya.

Beberapa hasil karya bu Hangin, sebagian masih dalam pengerjaan untuk ditambahkan manik atau pewarna naturalSebenarnya menerima penghargaan bukan hal yang baru bagi bu Hangin, beliau terlebih dahulu mendapatkan penghargaan dari Gubernur Prop.Kaltim, juga penghargaan yang paling bergengsi dari badan Internasiona UNESCO yaitu "Seal of Excellence" untuk produk rotannya, selain itu beliau langganan mendapat piala dalam lomba desain kerajinan tinggkat propinsi. atas prestasi-prestasi ini, tak heran pemerintah Indonesia sudah selayaknya memberikan apresiasi atas kiprah beliau

Bu Hangin sosok yang tak kenal lelah dan selalu mau belajar dari pengalaman, jiwa interpreneurnya juga tinggi, dengan modal yang tersendat-sendat beliau tidak menyerah untuk terus mengembangkan kerajinan tradisional Dayak. walaupun sebagai seorang Single mother yang harus menghidupi anak-anak, adik bahkan keponakannya..dia tidak pernah mengeluh! justru hal itu menjadi pemacu semangatnya untuk terus maju dan berjuang.

Selamat Bu Hangin! Semoga generasi muda Dayak dapat mengikuti jejakmuIbu Hangin sebagai pelatih bagi kelompok pengrajin Bna Usaha Rotan di desa Pepas Eheng, Kutai Barat

Bina Usaha Rotan, Memperkuat Perempuan Adat Dayak di Kutai Barat



Rotan ditanam oleh suku Dayak Benuaq di daerah Kedang Pahu di kabupaten Kutai Barat, selain menjual rotan basah, mereka juga memproduksi kerajinan tradisional seperti keranjang rotan[Berangka], Tikar, Tas atau gelang dari rotan. Mereka biasanya menggunakan rotan sebagai bahan untuk penggunaan sehari-hari maupun pada upacara tradisional. Rotan adalah sebagian hidup mereka.

Penduduk desa Kedang Pahu umumnya adalah petani dan kebanyakan dari mereka mempunyai kebun rotan mereka sendiri. Kerajinan anyaman rotan ini umumnya dilakukan oleh kaum perempuan atau ibu-ibu. Sedangkan kaum laki-laki berperan sebagai pemotong atau pemanen rotan. Rotan adalah tumbuhan berduri dan menjalar pada pohon yang tinggi didalam kebun rotan, rotan yang bagus untuk menghasilkan anyaman rotan yang baik adalah rotan yang tumbuhnya merambat diatas pohon. Sehingga perlu memanjat pohon untuk memilih rotan dengan mutu yang baik, untuk itu dibutuhkan keahlian kaum laki-laki. Dalam hal ini kerjasama antar laki-laki dan perempuan sangatlah penting. Sedangkan proses membelah, mengeringkan dan menganyam rotan dilakukan sebagian besar oleh kaum istri. Usaha kerajinan rotan ini ditekuni untuk menambah penghasilan keluarganya, disamping usaha pokok mereka sebagai petani. Kerajinan ini turun temurun di teruskan kepada anak-anak mereka agar tidak punah ditelan waktu. Bahan pewarna yang dipakai oleh mereka semuanya alami dari daun dan akar tanaman lokal. Warna yang umumnya dipakai untuk mewarnai adalah warna alami kulit rotan dan warna hitam.

Untuk memasarkan kerajinan rotan di kedang pahu, masyarakat pengrajin dari daerah ini telah membentuk sebuah usaha bersama yang dinamakan ” Bina Usaha Rotan”. Usaha ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan pengrajin rotan dengan memproduksi dan menjual ayaman rotan, melakukan
pelatihan bagi pengrajin mengenai teknis dan model-model baru serta memperbaiki kualitas dan mengembangkan produk baru dari anyaman rotan.

Bina Usaha Rotan memproduksi anyaman berdasarkan pesanan. Keuntungan yang didapat oleh lembaga usaha ini akan disalurkan kembali kepada
anggota guna memperbaiki tingkat kesejahteraan pengrajin. Usaha pengembangan kerajinan rotan ini juga di kembangkan untuk melindungi wilayah mereka dari penggundulan hutan dan kerusakan alam akibat ekploitasi hutan.

Halaman ini diciptakan hanya untuk memasarkan produk dan memperkenalkan lembaga usaha pengrajin rotan di kabupaten Kutai Barat yaitu ”Bina Usaha Rotan” ini kepada masyarakat umum. Jika anda ingin membeli produk buatan tangan ini, silahkan menghubungi kami untuk pemesanan.

contact: setingsetiawan@gmail.com

Pelatihan Pengembangan Model dan Kualitas Kerajinan Rotan di Desa Pepas Eheng 13 – 14 februari 2009


Desa Pepas Eheng yang terletak di kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat memang sudah terkenal sebagai sentra kerajinan anyaman anjat sejak dulu, aneka ukuran anyama rotan dengan mudah kita temui. Mulai dari yang ukuran kecil sampai ukuran besar. Para turis domestic maupun mancanegara yang pernah berkunjung ke Desa Eheng akan membawa oleh-oleh anjat khas Desa Pepas Eheng. Seiring dengan berjalannya waktu, bentuk kerajinan anyaman rotan di Desa Pepas Eheng semakin berkembang. Tidak hanya anjat saja yang kita temui tetapi juga anyaman berupa ”Berangka*”, Tikar, Bakul, Gelang bahkan Tas kerja.

Perubahan bentuk anyaman rotan dari Desa Pepas Eheng ini adalah bentuk kreatifitas masyarakat pengrajin yang ingin menjawab tantangan jaman, dimana apresiasi masyarakat umum terhadap produk anyaman sedikit demi sedikit berkurang karena bentuknya yang monoton. Oleh karena itu juga dalam rangka meningkatkan apresiasi masyarakat umum terhadap kerajinan anyaman dari Kutai Barat dan meningkatkan keahlian masyarakat pengrajin yang ada di 3 kampung di hilir aliran DAS Kedang Pahu[Eheng, Jengan Danum dan Lambing], maka telah terbentuk suatu wadah usaha kerajinan rotan yang bernama ”Bina Usaha Rotan”. Usaha ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan pengrajin rotan dengan memproduksi dan menjual ayaman rotan, melakukan pelatihan bagi pengrajin mengenai teknis dan model-model baru serta memperbaiki kualitas dan mengembangkan produk baru dari anyaman rotan. Kelompok Bina Usaha Rotan ini beranggotakan 60 orang penganyam/pengrajin rotan.

Pada tanggal 13-14 februari 2009 telah dilakukan ”Pelatihan Pengembangan Model dan Kualitas Kerajinan Rotan” yang mengambil tempat di Balai Kerajinan Desa Pepas Eheng. Pelatihan ini terlaksana atas kerjasama antara Bina Usaha Rotan dengan Non Timber Forest Product Exchange Program[NTFP-EP] yaitu sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berasal dari Philippina. Lembaga Swadaya Masyarakat ini tertarik bekerjasama dengan para pengrajin di Desa Pepas Eheng tak lain karena tertarik dengan produk kerajinan yang berwawasan lingkungan, alami dan mensejahterakan masyarakat lokal tanpa harus mengorbankan hutan untuk mencari penghasilan tambahan. Alasan lain lagi adalah karena di Philipina khususnya pulau Palawan juga terdapat usaha kerajinan rotan yang hampir mirip dengan yang ada di Kalimantan Timur, hal ini memungkinkan kedua kelompok masyarakat dari philipina dapat bertukar pengalaman dengan pengrajin di Pepas Eheng dan sebaliknya untuk sama-sama memajukan usaha masyarakat. NTFP-EP sudah lama bekerjasama dengan kelompokmasyarakat semacam Bina Usaha Rotan di Philipina, beberapa telah melakukan expor kerajinan rotan, dan telah melakukan modifikasi-modifikasi terhadap produk tradisional mereka tanpa kehilangan nuansa aslinya.

Dengan dukungan dari Petinggi/kepala desa dan pelatih yang telah berpengalaman dalam mengembangkan kreasi anyaman rotan yaitu Ibu Hangin Bang Donggo maka pelatihan yang terlakasana selama 2 hari ini telah menghasilkan beberapa kreasi baru dari modifikasi bentuk anjat menjadi tas jinjing ataupun tas santai juga pigura foto. Beberapa peserta sempat terharu karena baru kali ini bisa menguasai cara membuat modifikasi bentuk dari anjat. Hal lain yang dilatih dalam pelatihan adalah membuat bentuk sudut anyaman yang bagus agar bentuk tas lebih kuat dan gaya. Walaupun membutuhkan ketelatenan ternyata para peserta yang 90% perempuan ini tetap bersemangat mengikuti pelatihan sampai bisa menguasai keahlian baru yang diajarkan bagi mereka.

Dari pelatihan ini diharapkan penganyam mau terus berkreasi dengan model-model lain yang baru, sehingga keinginan masyarakat akan anyaman rotan yang bermutu yang sesuai dengan kebutuhan dan trend yang berkembang dapat di penuhi. Diharapkan wadah Bina Usaha Rotan ini semakin berkembang dan dapat menjadi sebuah wadah usaha masyarakat yang dapat mensejahterakan anggotanya.

Bina Usaha Rotan, strengthening the Dayak Woman - By Ms. Seting Setiawan



This is about an NGO initiative to increase community income through a socio-commercial enterprise by developing rattan craft products using raw rattan hand woven by the local farmers/weavers of Pepas Eheng Village in West Kutai District in East Borneo, Indonesia.


Rattan is planted by the Dayak Benuaq Tribe in Kedang Pahu Area in West Kutai District, and raw/wet rattan is sold to the weavers. The weavers produce traditional crafts like basket, a plaited mat, bag or bracelets out of them. They also have multipurpose uses for rattan like traditional ceremonies and for even daily use. Rattan is part of their life.


The villagers here are all farmers and most of them have rattan gardens of
their own. The men are good at cutting rattan, harvesting the best for the season. They need to climb trees to pick out the best good quality rattan for good quality craft. Rattan is a climber. The weaving itself is mainly done by the housewife, to provide supplementary income for her family; the mainstay of their livelihood being farming. She also teaches her kids how to do this, when they are back from school. The colors used by them are all natural pigmentations from leaves and roots of local plants. The natural color of rattan and the black color added give them an impressive look. Other colors like red, green and blue are still being tried out experimentally.


I am an NGO activist and I help them to organize the management and to look for a market for them. I have been working with this community for more than 5 years, and have helped them to launch this rattan craft project since the beginning of 2007. The contact in the Village is Ms. Rujun and she is very good in Bahasa Indonesia; I help her with English, emails and networking. Now we help the weavers to establish a community enterprise called "Bina Usaha Rotan" to produce, market the products and to train the community to develop new products and the improve quality. The demand for rattan products is increasing by the day and they have started to produce them per order. The profits earned are channeled back to improve the weaver income/welfare and to teach them to protect their areas from deforestation.


Out of the 60 families of this small hamlet, 40 housewives have been engaged
to contribute as weavers to this grass root level micro project. This means 40 families in the village make their lives more comfortable with their native skills and their own natural raw materials. Many more of them are starting to show keen interest in this activity. The enterprise belongs to the community. Now the products are being sold in the local markets because of their limited production capacities, but we hope to increase production, through engaging more and more community members and training them.


Farmer/weavers in the remaining 222 villages of West Kutai District produce rattan craft for household use. And I am working with 3 villages now. Now I am focusing on this pilot project in Pepas Eheng village and after training them to become self confident in managing it, I will continue with other villages. And so on and on, into other districts ..........


West Borneo province has a population of about 3 million. It will be a big job for me. But I am going to try. I will tell you about it later.


This page is created only to display the products of and to popularize the lot of the farmer/weavers of West Kutai district in East Borneo, Indonesia, who work silently, using their native skills, and their sweat and blood, in their effort to earn a meager but dignified living. There are many families involved in this socio-economic self-help activity, and they are very happy to go on with their humble lifestyle in this virgin pristine hinterland of Indonesia.



There is no attempt made through this page to seek grants, funds or donations whatsoever. I am scouting around for markets for these rattan products, mainly to encourage these weavers to step up their products, the main thrust of this campaign being to increase the community income resources and lifestyle of the weavers. If anyone reading this is interested in buying these handmade products, I can guarantee that they will get good value for their money, and they will only pay for what they really receive in value. There are no fakes here.

contact:
MS.Seting Setiawan
setingsetiawan@gmail.com

Produk - Produk Kerajinan Rotan Kutai Barat

salah seorang pengrajin dengan hasil kerjanya
Amok
Anjat
Rotan adalah tanaman yang sangat bermanfaat dan multifugsi. karena kelenturan dan kekuatannya tersebut maka masyarakat Dayak Benuaq dari daerah DAS Kedang Pahu di Kabupaten Kutai Barat berkreasi dengan membuat aneka bentuk kerajinan dari rotan.

ini adalah anjat dan amok salah satu bentuk produk yang dihasilkan dari rotan

Kuburan Orang Benuaq


Buat anda yang penakut dan tidak berani lewat kurburan hati-hati Jika hendak berkunjung ke kampung suku dayak Benuaq ataupun suku dayak Bentian di pedalaman Kalimantan Timur. Kuburan akan mudah ditemukan di halaman samping atau tepi jalan menuju kampung orang Dayak Benuaq. Kuburan orang Benuaq atau Bentian tidak didalam taah seperti layaknya suku lain. ketika pertama meninggal mereka akan dimakamkan didalam kotak yang di sangga oleh tiang atau di gantung pada tali. kemudian setelah beberapa tahun kuburan itu dibuka lagi lalu tulang belulang si mati di doakan/di beliatn lalu di masukan kedalam kotak bertiang yang permanent. biasanya tiap keluarga mempunyai kuburannya masing-masing dan kebanyakan letaknya disamping rumah keluarga, tidak dipekuburan umum seperti kebanyakan di kota atau kampung lain.

Ketika pertama kali saya menginjak kampung orang Benuaq, bulu kudukku berdiri dan rasa perut melilit-lilit karena takut. bagaimana nggak? niat mau nenangga ke rumah sebelah mesti lewat kuburan dulu, belum lagi hampir tiap malam terdengar musik pemanggil arwah orang yang sedang mengadakan upacara Beliatn[tarian/doa penyembuhan, anak ataupun untuk mendoakan orang meninggal] duh! toloooong, aku tidak berani sendirian kemana-mana, mesti ada yag ku sandera menemani sekalipun cuma ke belakang buat buang air kecil he..he.hee.hee

Minum dari Batang Rotan



Minum air langsung dari batang rotan merupakan pengalaman yang cukup unik bagi saya, bagaimana tidak? udara yang panas disela pepohonan membuat saya tidak bisa menahan keinginan untuk menikmati air rotan yang bening segar menggoda, dilidah terasa agak hambar-hambar tapi ada rasa manis yang tersembunyi. Dahagaku terpuasi, hati puas dan mensyukuri nikmat yang krasakan saat itu.

Memandang pak Junyung yang sedang memanjat pohon sambil menarik-narik batang rotan yang saling terpaut satu dengan yang lainnya di antara dedahanan, aku memandang air bening yang keluar dari batang rotan yang telah di potongnya. tiba-tiba ada rasa dahaga melihat air yang keluar perlahan-lahan dari pori-pori rotan itu. "Airnya bening ya?!"kataku mengomentari air tersebut. "Bisa diminum kalo mau ", katanya seolah bisa melihat isi hatiku. "Wah! tidak beracun? gimana rasanya?" tanyaku ragu walaupun ada rasa senang mendengar penyataannya soal "bisa diminum". "Coba saja!" katanya sambil turun perlahan dari pohon lalu menuju kearahku. Aku lalu menuju kumpulan rotan yang telah di potongnya, sambil memegang beberapa potong rotan aku menimbang-nimbang potongan itu, aku merasa agak geli juga melihat potongan yang cuma diletakan di tanah,dan dipotong dengan parang yang tidak dicuci. Minum langsung bisa cacingan pikirku. melihat keraguanku, pak Junyung sekali lagi seperti bisa membaca pikiranku langsung berkomentar "di bedirikan dulu rotannya, biarkan air pertama menetes sampai kotoran yang diujung rotan hilang baru di kumpulkan dalam cangkir atau gelas, karena kita tidak bawa gelas sekarang maka langsung ke mulut saja, lebih bersih he..he..he..." katanya sambil terkekeh. "selain menghilangkan haus, air rotan bagus juga untuk menghilangkan sakit urat" lanjutnya. "Oh ya?!" aku terperanjat sambil terus menadahkan mulutku di ujung kumpulan rotan. "ya.. orang tua jaman dulu sering secara khusus mengumpulkan air dari batang rotan untuk mengobati beberapa penyakit mereka, banyak gunaya air rotan ini", seru pak Junyung. Hatiku senang mendengar pernyataan itu, raguku hilang berganti maruk ingin terus meneguk air rotan agar penyakit-penyakit yang tak kuketahui ada di tubuhku bisa hilang karena khasiat air rota ini...